Recent Posts

Senin, 14 Juli 2014


Penerbit: Pustaka Muslim Yogyakarta
Judul Buku: Fikih Shalat Dhuha
Penulis: Ammi Nur Baits
Ukuran: 11,5 x 17 cm
Tebal: 164 Halaman
Harga: Rp 20.000,00

Fikih Shalat Dhuha

Penerbit: Pustaka Muslim Yogyakarta
Judul Buku: 10 Pelebur Dosa
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Ukuran: Buku Saku 9,5 x 14 cm
Harga: Rp 6.000,00

10 Pelebur Dosa

Minggu, 13 Juli 2014

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang menjaga shalat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nanti di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.” (HR. Ahmad, hasan)
Di zaman ini sedikit yang sadar untuk shalat. Padahal jika seseorang itu menjaganya, hidupnya akan mudah dan di akhirat lebih-lebih akan mendapatkan keselamatan.
Meskipun bahaya, sedikit yang mau sadar dan masih enggan untuk shalat bahkan hingga bertahun-tahun. Lebih-lebih shalat shubuh yang seringkali ditinggalkan. Padahal sudah diketahui bersama bahwa shalat adalah bagian dari rukun Islam. Yang namanya rukun diibaratkan seperti tiang penopang utama dari suatu bangunan. Jika tiang tersebut roboh, tentu kubah Islam akan roboh. Dan para ulama sepakat, meninggalkan satu shalat saja dengan sengaja termasuk dosa besar bahkan dosanya lebih parah daripada berzina, mencuri, minum-minuman keras, korupsi dan dosa besar lainnya.
Di dalam buku ini selain menjelaskan bahaya meninggalkan shalat, juga dijelaskan mengenai kedudukan shalat dalam Islam, keutamaan shalat secara umum, keutamaan shalat Shubuh dan ‘Ashar, juga ada penjelasan mengenai shalat Shubuh dan ‘Isya’ yang berat bagi orang munafik dan kiat bangun Shubuh.
Moga dari penjelasan sederhana dari buku ini dapat menyadarkan orang yang mengaku muslim namun masih enggan untuk shalat. Dan tugas kita adalah mendakwahkan orang-orang dekat kita untuk memperhatikan shalat. (*)
Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal
Penerbit: Pustaka Muslim Yogyakarta
Detail Produk:
Ukuran: 11,5 x 17 cm
Tebal: sekitar 120 Halaman
Harga: Rp. 30.000,-

Kenapa Masih Enggan Shalat?


Kata Pengantar oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, M.A.
Negeri kita adalah negeri dengan iklim tropis, sehingga banyak mendapatkan karunia hujan, terlebih-lebih pada musim penghujan. Setiap kali Allah Ta”ala menurunkan nikmat-Nya, berupa air hujan, berbagai reaksi dan perasaan dapat anda baca dari raut wajah masyarakat. Dan bahkan tidak jarang, mereka menuangkan perasaannya dalam bentuk kata-kata.
Umpatan, keluh kesah, puji syukur, dan berbagai ungkapan perasaan terdengar dan terbaca dari raut wajah mereka. Bagaimana dengan anda?
Pada suatu hari Presiden Susilo Bambang Yudoyono mengadakan acara penyerahan bibit pohon trembesi di halaman tengah Istana Negara. Namun acara belum dimulai, hujan deras telah menghampiri. Tak ayal lagi, acara dipindahkan ke dalam Istana Negara. Seratusan kursi dan alat pengeras suara serta podium pun basah kehujanan. Sambil berdiri menanti kehadiran Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang hendak bertemu dengannya di Istana, Bapak Presiden berkata: “Sekarang ini, pagi hujan sore hujan. Sore hujan pagi hujan.”
Salah seorang kuli tinta (wartawan) tidak menyia-nyiakan ucapan Presiden ini, ia berusaha menggali lebih jauh kandungan dan maksud ucapan beliau. Wartawan itupun bertanya: “Artinya apa Pak kalau pagi hujan, sore hujan.”
Menjawab pertanyaan wartawan itu, Bapak Presiden berkata: “Itulah kehendak Allah, seribu pawing pun tidak akan bisa menghentikan hujan; karena ini sudah kehendak Allah Ta’ala.”
Demikianlah seyogyanya seorang muslim menyikapi hujan, bersykur, menerima, yakin bahwa hujan adalah karunia dan kehendak Allah, tanpa ada campur tangan bintang atau pawang hujan.
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy Syuura: 28).
Saudaraku! Buku yang ada di tangan anda ini, merupakan rangkuman singkat dan padat tentang berbagai hukum dan sikap yang seyogyanya anda ambil, acap kali turun hujan. Sudah sepantasnya bila anda dan juga setiap umat Islam menelaahnya, dan selanjutnya berjuang mengamalkan kandungannya.
Saya menyampaikan apresiasi kepada saudara Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc atas karyanya ini. Semoga Allah Ta”ala melimpahkan tambahan taufiq dan “inayah-Nya kepadanya. Dan semoga Allah Ta”ala melimpahkan lautan faedah kepada anda, dari membaca karya beliau ini.
Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan shahabatnya.Amiin.

Judul : Panduan Amal Shalih di Musim Hujan
Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.
Jumlah halaman : 108 halaman
Harga : Rp. 25.000,-

Panduan Amal Shalih di Musim Hujan

 “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Ma’idah: 3).
“…dikit-dikit bid’ah…. dikit-dikit bid’ah…”
“…apa-apa bid’ah… apa-apa bid’ah…”
Terkadang kita mendengar kalimat tersebut ataupun yang semisalnya dilontarkan kepada kita ataupun kepada dai dan aktivis dakwah yang menyeru kepada sunnah. Tidak jarang yang melontarkan adalah tokoh agama atau tokoh masyarakat yang disegani di lingkungan kita. Kata “bid’ah” diidentikkan kepada orang yang seram, menakutkan dan dianggap memecah belah umat. Namun bagaimana hakikat sebenarnya?
Para pelaku bid’ah dan pembelanya melontarkan berbagai pembelaan untuk membela bid’ah. Diantaranya adalah dengan mengatakan Umar bin Khaththab pun dikatakan melakukan bid’ah, yaitu dengan melakukan shalat tarawih berjamaah. Dikatakan pula bahwa Para sahabat pernah melakukan bid’ah dengan mengumpulkan Al Qur’an, Yang penting kan niatnya !, ini kan sudah tradisi di tempat kami, baca Qur’an kok dilarang?!.
Kalau semua yang baru itu disebut bid’ah, berarti mobil, pesawat, telepon, HP itu bid’ah juga dong? Pake unta saja sana….
Kalimat-kalimat tersebut hanyalah sebagian dari berbagai pembelaan terhadap bid’ah yang dilakukan sebagian kaum muslimin.
Namun, sebenarnya apakah hakikat bid’ah itu, apakah ada dalil yang melarangnya, apa saja pembelaan pelaku bid’ah dan bagaimana meluruskannya, apakah dampak buruk bid’ah bagi agama Islam? Temukan jawabannya dalam buku ini, sebuah buku ringkas yang membahas seputar bid’ah dengan pembahasan yang mudah dan sederhana sehingga memudahkan kita untuk memahaminya. Semoga bermanfaat…
Judul : Mengenal Bid’ah Lebih Dekat
Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal.
Ukuran : 11,5 x 17 cm.
Halaman : 110 halaman.
Harga : Rp. 25.000,00

Mengenal BID'AH Lebih Dekat

Kebahagiaan adalah dambaan setiap insan. Namun sayang, tidak semua orang mendapatkannya. Hanya orang-orang beriman yang bisa merasakan kebahagiaan yang hakiki. Banyak orang mengira dirinya pemilik kebahagiaan. Mereka optimis dengan amal dan usaha yang mereka lakukan. Padahal, sebenarnya amal mereka sia-sia, bagaikan debu yang berterbangan.. Kebahagiaan yang hakiki adalah dengan mewujudkan nilai-nilai keimanan dan mengikis segala bentuk kezaliman.
“Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya.
[1] Tauhid, lawannya syirik.
[2] Sunnah, lawannya bid’ah.
[3] Ketaatan, lawannya adalah maksiat…”. Ibnul Qayyim rahimahullah (al-Fawa’id, hal. 104).
Semakin manusia mengenal Allah maka akan semakin besar kebahagiaan hakiki yang dia dapatkan, Semoga dengan hadirnya buku ini menyadarkan kita kebahagiaan yang hakiki dan mengetahui kunci kebahagiaan tersebut. Selamat membaca.
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Detail Produk:
Ukuran: 11,5 x 17 cm
Tebal: 120 Halaman
Harga: Rp. 25.000,-

Tauhid, Kunci Kebahagiaan Yang Terlupakan